Rabu, 09 Desember 2009

PTK Meningkatkan Kreativitas berbahasa anak PAUD meggunakan Multimedia pada Dongeng


Ketika aku berjalan-jalan mengamati anak-anak di Taman kanak ku, aku merasa ada yang kurang gairah. Anak-anak masih ada yang kurang kreatif dalam berbahasa.

Dari itu saya melakukan PTK di Kelompok B TK Islam Kanita Tiara yang saya bina.
1. Judul
“Upaya Meningkaktan Kreativitas Berbahasa Dengan Penggunaan M.P.D. Anak Kelompok B1 TK Islam Kanita Tiara Sukoharjo.”

Oleh: Bambang Trisoelo, M.B.A
2. Abstrak
Tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah : untuk mengetahui apakah MPD (Multimedia Pada Dongeng) dapat meningkatkan kreativitas Berbahasa anak kelompok B1 TK Islam Kanita Tiara Kecamatan Baki, Kabupaten Sukoharjo.

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian tindakan kelas dengan dua siklus kegiatan. Dalam setiap siklus ada 4 langkah kegiatan yaitu tahap perencanaan, tahap tindakan, tahap pengamatan dan tahap refleksi. Setting tindakan penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan pada bulan Agustus 2008 – Oktober 2008 dengan subyek penelitian anak kelas B1 TK Islam Kanita Tiara Purbayan, Kecamatan Baki, Kabupaten Sukoharjo yang terdiri dari 32 anak.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa penggunaan MPD (Multimedia Pada Dongeng) dapat meningkatkan kreativitas berbahasa anak yang baik dari 31,25 % menjadi 90.63%. Masih ada 9.38% dengan kriteria kemampuan kreatifitas cukup.

Kata Kunci : Upaya Meningkaktan Kreativitas Berbahasa

3. Pendahuluan
Bermain merupakan inti program perkembangan anak Taman Kanak-Kanak, namun tidak semua pendidik mampu mengemas dan melaksanakan pembelajaran dengan bermain. Bermain adalah proses alami yang sangat dibutuhkan anak dalam perkembangannya. Anak cerdas, kreatif, dan berakhlak mulia dambaan setiap orang, itu semua modal yang tak ternilai bagi anak untuk mengarungi kehidupan di masa mendatang. Oleh karena itu dibutuhkan kepedulian kita untuk penanganan yang tepat dan aplikatif dalam layanan pendidikan Taman Kanak-Kanak. Belum banyak pemahaman bahwa kecerdasan yang baik bukan harga mati, namun sesuatu yang dapat kita upayakan. Bernard Devlin dari Fakultas Kedokteran Universitas Pittsburg dalam Khamid Wijaya (2004), memperkirakan bahwa faktor genetik hanya memiliki peranan sebesar 48% dalam pembentukan kecerdasan anak, selebihnya adalah faktor lingkungan.
Di semester pertama kelompok B-1 TK Islam Kanita Tiara , tahun 2008-2009, kondisi pembelajaran pada semua aspek perkembangan lancar, namun proses pembelajaran pada kreativitas berbahasa anak masih rendah, anak terlihat kurang aktif dalam kegiatan, kurang berani dalam mengutarakan gagasan, anak terlihat bosan dalam pembelajaran. Padahal kreativitas berbahasa ini hal yang sangat penting untuk menyiapkan anak –anak yang cerdas dan kreatif.
Peneliti berusaha mengatasi masalah ini dengan penggunaan multimedia pada dongeng. Multimedia memiliki banyak keunggulan dibanding dengan media lain, dengan menggunakan multimedia memungkinkan kombinasi antara teks, grafik, audio, gambar bergerak (video dan animasi) yang dapat membuat anak tertarik dan termotivasi untuk belajar. Multimedia pada dongeng ini untuk menumbuhkan dan meningkatkan kreativitas berbahasa anak. Peneliti menggunakan judul dongeng Kancil Bisa Terbang. Diharapkan dari tampilan multimedia pada dongeng yang dikemas dengan tiga demensi, cerita menarik, anak belajar dengan menyenangkan, kreativitas meningkat.
Mengatasi realita dan hambatan yang ada maka peneliti melakukan tindakan yang tepat, yaitu “Upaya Meningkatkan Kreativitas Berbahasa Dengan Penggunaan Multimedia Pada Dongeng Kelompok B-1 TK Islam Kanita Tiara” Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan keberhasilan pembelajaran di Taman Kanak-Kanak,yaitu meningkatkan kreativitas berbahasa.

a. Pengertian Multimedia Pembelajaran
Pendidikan anak usia dini (Early Childhood Education) merupakan bidang ilmu yang relatif baru. Bila sebelumnya anak didik berdasarkan pemahaman orang dewasa saja bagaimana cara memperlakukan anak dan apa yang terbaik bagi anak, saat ini setelah berkembang Pendidikan TK, diharapkan anak dapat diperlakukan sesuai dengan kebutuhan perkembangannya sehingga anak tumbuh sehat jasmani dan rohani. Anak pun dapat diperhatikan secara lebih komprehensif.
Pembelajaran untuk anak usia dini bukan berarti anak harus disekolahkan pada umur yang belum seharusnya, dipaksa untuk mengikuti pelajaran yang akhirnya justru membuat anak menjadi terbebani dalam mencapai tugas perkembangannya. Pembelajaran untuk anak usia dini pada dasarnya adalah pembelajaran yang kita berikan pada anak agar anak dapat berkembang secara wajar.
Pada hakikatnya anak belajar sambil bermain, oleh karena itu pembelajaran pada anak usia dini pada dasarnya adalah bermain. Sesuai dengan karakteristik anak usia dini yang bersifat aktif dalam melakukan berbagai ekplorasi terhadap lingkungannya, maka aktivitas bermain merupakan bagian dari proses pembelajaran. Untuk itu pembelajaran pada usia dini harus dirancang agar anak merasa tidak terbebani dalam mencapai tugas perkembangannya. Proses pembelajaran yang dilakukan harus berangkat dari yang dimiliki anak. Setiap anak membawa seluruh pengetahuan yang dimilikinya terhadap pengalaman-pengalaman baru.
Banyak aspek-aspek perkembangan Anak Usia Dini (PAUD). Secara Internasional Nasional Assosiation in Education for Young Children (NAEYC) (Dewi dan Eveline, 2004:351-356) mengungkapkan sebenarnya aspek-aspek perkembangan PAUD adalah :
a) Perkembangan fisik, baik motorik halus maupun motorik kasar.
Yang termasuk motorik halus dalam hal ini adalah gerakan tangan dan yang termasuk dalam motorik kasar adalah gerakan si anak saat naik-turun tangga ataupun memanjat.
b) Perkembangan emosional dan sosial.
Emosional dalam hal ini menyangkut segala sesuatu yang berhubungan dengan perasaan si anak, baik itu perasaan sedih, senang, kesal, gembira, dll. Sedangkan perkembangan sosial dalam hal ini adalah interaksi si anak dengan lingkungan, terutama orang-orang yang ada di sekitar si anak.
c) Perkembangan kognitif / intelektual.
Perkembangan kognitif di sini contohnya adalah perkembangan kemampuan si anak untuk menggunakan bahasa.
Anak usia dini belajar dengan caranya sendiri, namun sering kali guru dan orang tua mengajarkan anak sesuai dengan pemikiran orang dewasa. Akibatnya, apa yang diajarkan kepada anak sulit untuk diterima. Gejala ini dapat dilihat dari banyaknya hal yang disukai oleh anak, namun menjadi larangan oleh orang tua, sebaliknya hal yang disukai orang tua banyak yang tidak disukai anak. Oleh sebab itu, orang tua sangat perlu untuk memahami hakikat dari perkembangan anak.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka pembelajaran yang paling tepat bagi anak usia dini adalah pembelajaran yang menggunakan prinsip belajar, bermain, dan bernyanyi. Pembelajaran hendaknya disusun sedemikian rupa sehingga anak merasa pembelajaran tersebut menyenangkan, gembira dan demokratis, sehingga menarik perhatian anak untuk terlibat dalam pembelajaran.

b. Kreativitas Anak
Kreativitas meliputi berpikir orisinal (memikirkan cara-cara yang baru), berpikir lancar (mengajukan banyak pertanyaan, menjawab dengan sejumlah jawaban), imajinatif (memikirkan hal-hal yang belum terjadi).
(Utami Munandar, Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah, 1992, 88-91).
Utami Munandar (1977) melalui penelitiannya di Indonesia menyebutkan ciri-ciri kepribadian dari kreativitas yang dianggap orang Indonesia, yaitu: (1) Mempunyai daya imajinasi kuat; (2) Mempunyai inisiatif; (3) Mempunyai minat luas; (4) Mempunyai kebebasan berpikir; (5) Bersikap ingin tahu; (6) Selalu ingin mendapat pengalaman –pengalaman baru; (7) Mempunyai kepercayaan diri yang kuat; (8) Penuh semangat; (9) Berani mengambil resiko; (10) erani berpendapat dan memiliki keyakinan.
Dalam penelitian tindakan kelas ini untuk kreativitas yang dirumuskan mengacu pada SKH (Satuan Kegiatan Harian), yang meliputi keberanian anak mengungkapkan ide, berani bertanya, berani menjawab dengan sejumlah jawaban, berani bercerita secara sederhana.

c. Bahasa
Bahasa dibentuk oleh kaidah aturan serta pola yang tidak boleh dilanggar agar tidak menyebabkan gangguan pada komunikasi yang terjadi. Kaidah, aturan dan pola-pola yang dibentuk mencakup tata bunyi, tata bentuk dan tata kalimat. Agar komunikasi yang dilakukan berjalan lancar dengan baik, penerima dan pengirim bahasa harus harus menguasai bahasanya.
Bahasa adalah suatu sistem dari lambang bunyi arbitrer yang dihasilkan oleh alat ucap manusia dan dipakai oleh masyarakat komunikasi, kerja sama dan identifikasi diri. Bahasa lisan merupakan bahasa primer, sedangkan bahasa tulisan adalah bahasa sekunder. Arbitrer yaitu tidak adanya hubungan antara lambang bunyi dengan bendanya.
Fungsi Bahasa Dalam Masyarakat : (1) Alat untuk berkomunikasi dengan sesama manusia; (2) Alat untuk bekerja sama dengan sesama manusia; (3) Alat untuk mengidentifikasi diri.
Macam-Macam dan Jenis-Jenis Ragam / Keragaman Bahasa, yaitu ragam bahasa pada: (1) bidang tertentu seperti bahasa istilah hukum, bahasa sains, bahasa jurnalistik, dsb; (2) perorangan atau idiolek seperti gaya bahasa mantan presiden Soeharto, gaya bahasa Benyamin S, dan lain sebagainya; (3) kelompok anggota masyarakat suatu wilayah atau dialek seperti dialek bahasa madura, dialek bahasa Medan, dialek bahasa Sunda, dialek bahasa Bali, dialek bahasa Jawa, dan lain sebagainya; (4) kelompok anggota masyarakat suatu golongan sosial seperti ragam bahasa orang akademisi beda dengan ragam bahasa orang-orang jalanan; (5) bentuk bahasa seperti bahasa lisan dan bahasa tulisan; (6) suatu situasi seperti ragam bahasa formal (baku) dan informal (tidak baku).
Bahasa lisan lebih ekspresif di mana mimik, intonasi, dan gerakan tubuh dapat bercampur menjadi satu untuk mendukung komunikasi yang dilakukan. Lidah setajam pisau / silet oleh karena itu sebaiknya dalam berkata-kata sebaiknya tidak sembarangan dan menghargai serta menghormati lawan bicara / target komunikasi.
Bahasa isyarat atau gesture atau bahasa tubuh adalah salah satu cara bekomunikasi melalui gerakan-gerakan tubuh. Bahasa isyarat akan lebih digunakan permanen oleh penyandang cacat bisu tuli karena mereka memiliki bahasa sendiri. Bahasa isyarat akan dibahas pada artikel lain di situs organisasi.org ini. Selamat membaca. ( http://definisi.net/story.php?title=bahasa , tgl 25 November 2009)

d. Pengertian Dongeng
Dongeng sebenarnya merupakan salah satu bentuk tutur kata yang bersifat cerita. Dongeng selama ini sering diidentikkan sebagai cerita bohong, khayalan, atau cerita yang mengada-ada, namun demikian dongeng apabila dikaji lebih dalam tidak sekedar cerita yang bersifat bualan dan tidak bermanfaat. Berkaitan dengan dunia anak-anak, anak-anak memperoleh banyak hal dari cerita. Bagi anak-anak, pemberian cerita/dongeng merupakan proses kreatif, dalam proses perkembangannya cerita/dongeng senantiasa mengaktifkan tidak hanya aspek-aspek intelektual tetapi juga aspek kepekaan, kehalusan budi, emosi, seni, fantasi, dan imajinasi, tidak hanya mengaktifkan otak kiri tetapi juga otak kanan (Andi Yudha, 2007: 19).
Menurut Andi Yudha (2007: 28) dongeng bagi anak-anak memiliki banyak manfaat, antara lain: (1) dongeng merupakan komunikasi yang menarik perhatian anak, (2) dongeng melatih konsentrasi anak, (3) dongeng merupakan cara belajar yang menyenangkan (funny), (4) dongeng mampu mengajak anak ke alam fantasi, (5) dongeng melatih anak bersosialisasi, (6) dongeng mengasah kreativitas anak, (7) dongeng memupuk rasa keindahan dan kehalusan budi, (8) dongeng membangkitkan kepekaan sosial, (9) dongeng membuat anak beridentifikasi, (10) dongeng bersifat apresiatif terhadap indera pengelihatan, pendengaran, gerak dan emosi (feeling), (11) dongeng merupakan rumah imajinasi anak, (12) dongeng melatih anak berkomunikasi dengan diri sendiri dan orang lain, (13) dongeng memicu daya kritis dan curiosity, (14) dongeng merupakan jendela pengalaman yang bermakna, (15) dongeng melatih kemampuan bahasa.
Dengan demikian dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa dongeng dapat memacu dan memicu kecerdasan majemuk (mutlipel intelligence) bagi anak. Anak-anak yang diberi dongeng, semua inderanya akan aktif, hatinya aktif dan otaknya juga aktif, sehingga apa yang mereka dapat dari pendongeng berupa suara, ucapan, gerak, gambar akan membuat anak-anak banyak belajar. Berbagai jenis kecerdasan dapat terpacu dari aktivitas mendengarkan dongeng, baik kecerdasan musik, kinestetik, logika matematika, bahasa, ruang, intrapersonal, interpersonal dan natural.

e. Pembelajaran Melalui Dongeng
Landasan pembelajaran bagi anak usia dini adalah kontekstual (contextual teaching and learning), sehingga anak mampu mengkonstruksi pengetahuan secara mandiri. Karakter anak usia dini menurut Piaget termasuk dalam tahap pra-operasional, yang dicirikan dengan kemampuan anak untuk mulai berpikir. Anak mulai menggunakan simbol-simbol untuk mempresentasikan dunia (lingkungan) secara kognitif. Simbol-simbol digunakan untuk menggantikan peristiwa atau kegiatan.
Dongeng bagi anak adalah materi yang kontektual, walaupun sebenarnya imajinatif bagi orang dewasa. Kisah dalam dongeng membuat imajinasi merupakan instrumen pemikiran yang paling mendasar Turner dalam Pink (2006: 127). Kapasitas-kapasitas rasio bergantung pada isi dongeng, bahkan dongeng merupakan media untuk melihat masa depan, memprediksi, merencanakan dan menjelaskan sebagian besar pengalaman dan pengetahuan.
Anak usia dini sangat sulit untuk mempelajari fakta-fakta, oleh karenanya dongeng menempatkan fakta-fakta secara kontekstual dan mengirimkannya dengan pengaruh emosional. Pink (2006: 139) menyatakan bahwa dongeng merupakan high concept dan high touch. High concept berarti mempertajam pemahaman tentang satu hal dengan memperlihatkannya dalam konteks sesuatu yang lain, sedangkan high touch berarti kisah-kisah dalam dongeng selalu memasukkan kekuatan emosi. Dongeng adalah peristiwa-peristiwa kognitif yang penting, karena melalui dongeng dapat meringkas dalam satu paket yang padat, informasi, pengetahuan, konteks dan emosi.
Tadkiroatun Musfiroh (2008: 22) memberikan alasan tentang pentingnya anak menyimak dongeng atau cerita, yaitu: (a) menyimak dongeng merupakan sesuatu yang menyenangkan anak; (b) dongeng dapat mempengaruhi masyarakat; (c) dongeng membantu anak melihat melalui mata orang lain; (d) dongeng memperlihatkan pada anak konsekuensi suatu tindakan; (e) dongeng mendidik hasrat anak; (f) dongeng membantu anak memahami tempat; (g) dongeng membantu anak memanfaatkan waktu; (h) dongeng membantu anak mengenal penderitaan, kehilangan dan kematian; (i) dongeng mengajarkan anak bagaimana menjadi manusia, dan (j) dongeng menjawab rasa ingin tahu dan misteri kreasi.
Metode cerita merupakan metode yang sangat tepat untuk memberikan wawasan sejarah dan budaya yang bermacam-macam bagi anak. Selain itu, kegiatan bercerita sebagai sarana komunikasi linguistik yang kuat dan menghibur dapat pula mengajarkan anak mengenai ritme, pitch (pola titi nada) dan nuansa bahasa.

4. Metode Penelitian
A. Setting Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini dilakukan di TK Islam Kanita Tiara dengan alamat Perumahan Tiara Ardi Desa Purbayan, Kecamatan Baki Sukoharjo pada anak kelompok TK B1 tahun pelajaran 2008/2009.


B. Subyek Penelitian
Subyek yang akan diteliti dalam penelitian tindakan kelas adalah anak kelas B1 TK Islam Kanita Tiara Purbayan, Kabupaten Sukoharjo tahun pelajaran 2008/2009 dengan jumlah 32 anak. Dari 32 anak tersebut 15 anak laki-laki dan 17 anak perempuan.
C. Sumber Data
Sumber data yang digunakan dalam penelitian berasal dari :
1. Data awal anak-anak sebelum tindakan didapat dari dokumen observasi.
2. Hasil pemantauan aktivitas anak saat kegiatan pembelajaran dengan penggunaan MPD (Multimedia Pada Dongeng) yang dicatat secara tertulis menggunakan lembar observasi.
D. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dengan Observasi dan hasil Unjuk kerja. Sedangkan alat pengumpulan data menggunakan lembar observasi dan lembar Unjuk kerja.
E. Validasi Data
Dalam penelitian ini digunakan triangulasi dengan sumber yang diperoleh melalui observasi.
F. Analisis Data
Perkembangan hasil belajar anak dipantau dan dianalisa dalam setiap Siklus secara kualitatif.
G. Indikator Kinerja.
Indikator untuk mengetahui kinerja dari media MPD (Multimedia Pada Dongeng), ditetapkan sebagai berikut : (1) sekurang-kurangnya 75 % anak didik memiliki kemampuan kreativitas berbahasa baik dalam proses pembelajaran; (2) sekurang- kurangnya 15 % anak memiliki kemampuan kreativitas berbahasa cukup dalam proses pembelajaran dan ; (3) tidak lebih dari 10% anak memiliki kemampuan kreativitas berbahasa kurang dalam pembelajaran.
H. Prosedur Penelitian.
Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 Siklus. Setiap Siklus mempunyai 4 tahapan, yaitu : (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi.
Penelitian ini diawali dengan pelaksanaan Siklus I yang terdiri dari kegiatan perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi baru dilanjutkan kegiatan Siklus II.
Kegiatan Siklus II sama dengan kegiatan pada Siklus I. Kegiatan pada Siklus II merupakan perbaikan dari kekurangan Siklus I. Kegiatan ini didasarkan atas kegiatan refleksi Siklus I, materi pada Siklus II melanjutkan Siklus II.
Hasil penelitian dari setiap tindakan dievaluasi untuk mengetahui hasilnya. Penilaian untuk anak yang bagus diberi tanda (), cukup diberi tanda ceklis (v), dan yang kurang/ belum berhasil (O).

5. Hasil-hasil Pembahasan
Lihat Gambar Tabel diatas

Keterangan Tabel 1
Dari tabel 1 dapat diketahui pada Siklus I sudah dilakukan tindakan menggunakan media MPD ( Multimedia Pada Dongeng) dari 32 anak kelas B1 TK Islam Kanita Tiara, yang belum terampil kreativitasnya ada 5 anak nilai lingkaran kosong ((). Jika diprosentase 15,63%. Sedang yang sudah trampil 27 anak, nilai lingkaran penuh (() atau bagus diprosentasi 84,38 % anak dan nilai ceklis (v) cukup 0 anak. Jika diprosentasi 0 %. Sehingga perlu dilakukan tindakan lanjutan, agar terjadi peningkatan.
Dari table 1 Siklus ke II setelah melakukan tindakan dengan penggunaan media MPD (Multimedia Pada Dongeng) dari 32 anak kelas B1 TK Islam Kanita Tiara yang belum trampil berkreativitas tidak ada, nilai lingkaran kosong ((). Jika diprosentase 0 %. Sedangkan yang sudah trampil berbahasa mendapat nilai lingkaran penuh (() atau bagus 29 anak, jika diprosentasi 90,63 % dan nilai cukup atau ceklis (v) 3 anak, diprosentasi 9,38 %.
Secara prosentase dapat dilihat melalui Gambar Grafik halaman 13.

6. Hasil Penelitian
Hasil penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dari Siklus ke Siklus dapat kita lihat dan kita evaluasi. Keberhasilan dalam tindakan ini dapat dilihat berdasarkan indikator kinerja sebagai berikut: Sekurang-kurangnya kemampuan kreativitas berbahasa 75 %, hasil tindakan kemampuan kreativitas berbahasa menjadi 90,63 %, berarti pembelajaran berhasil.

7. Kesimpulan
1) Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan pada Bab IV, maka mendapat simpulan bahwa Upaya Meningkatkan Kreativitas Berbahasa Dengan Penggunaan M.P.D. (Multimedia Pada Dongeng) Anak Kelompok B1 TK Islam Kanita Tiara, Kecamatan Baki Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, sangat tepat dilakukan.
2) Dari rencana program yang dilakukan melalui kegiatan ini maka anak merasa senang, bereksplorasi / menemukan hal-hal baru, dan menguatkan pola pikir anak, anak-anak meningkat dalam kreativitas berbahasanya (berani mengungkapkan ide dengan menemukan hal-hal baru, mampu bercerita, berani bertanya dan menjawab pertanyaan dengan sejumlah jawaban).
3) Kegiatan ini sangat efektif bila direncanakan dengan baik, daya pikir anak dapat tumbuh dan berkembang karena pembelajaran dikemas dengan kasih sayang atau menyenangkan dan anak terlibat langsung ke dalam dongeng, yang dapat memperkaya perbendaharaan kata / bahasa anak. Sehingga kegiatan ini dapat memberikan inspirasi inovatif dalam pelaksanaan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan), yang memberikan keleluasaan kepada pendidik untuk mendesain pembelajaran sesuai dengan prinsip pembelajaran untuk Taman Kanak-Kanak, Multimedia Pada Dongeng mampu memberikan suasana pembelajaran yang menyenangkan, anak aktif berpikir, penuh nilai kebaikan, dan mensyukuri Kebesaran Tuhan.

8. Daftar Pustaka
Agnew, P. W., Kellerman, A. S. & Meyer, M. J. (1996). Multimedia in the classroom. Boston: Allyn and Bacon
Amstrong. (2002). Sekolah Para Juara, Menerapkan Multiple Intelligences di Dunia Pendidikan. Bandung : Mizan Media Utama
Andi Yudha. (2007). Cara pintar mendongeng. Bandung: Mizan Media Utama.
Chapman, N. & Chapman, J. (2004). Digital multimedia (2nd ed). London: John Wiley & Sons, Ltd.
Dewi Salma & Eveline Siregar.(2004). Mozaik Teknologi Pendidikan. Jakarta. Prenada Media bekerjasama dengan Universitas Negeri Jakarta.
Getzels,J.W.& Jackson.Jakarta:Fakultas. 1993.”Creative and intelligence” dalam Kreativitas dan Bermain, oleh Seto Mulyadi. m Pascasarjana Universitas Indonesia.
Guilford,J.P.1993.”Three Faces of intellect” dalam Desertasi.Jakarta: Program Pascasarjana Universitas Indonesia.
Hannafin, M.J.,& Peck,K.L. (1988). The design, Development, and Evaluation of Instructional Software. New York:Macmillan Publishing Company.
Hawadi – Reni Akbar (2001). Psikologi Perkembangan Anak. Jakarta. Grasindo.
Kasihani Kasbolah (1999). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: DIKTI.
Lee and Owen. (2004). Multimedia-Based instructional Design. San Francisco:Pfeiffer
Mulyadi, Seto 1993. Kreativitas dan Bermain. Desertasi. Jakarta: Program Pascasarjana Universitas Indonesia.
Philips, R. (1997). A practical guide for educational applications. London: Kogan Page limited.
Pink. (2006). Otak Kanan Manusia. Yogyakarta:Penerbit Think
Sunarto dan Supriyadi. (2002). Relevansi pengembangan CAI bidang pendidikan. Cakrawala Pendidikan: Jurnal Ilmiah Pendidikan No 1 Th XXI ISSN: 0216-1370,Hal 180-193, Yogyakarta:LPM UNY
Tadkirotun Musfiroh. (2008). Memilih, menyusun, dan menyajikan Cerita untuk anak usia dini. Yogyakarta: Tiara Wacana
Torance, P.E. 1974. Guiding Creative Talent. New york: Prentice Hall, Inc.
Utami Munandar, S.C. 1977, Creativity and education: A study of relation between measures of creative thinking and education variables in Indonesia Primary and Secondary Schools. Tesis Doktoral. Jakarta:
Fkultas Psikologi Universitas Indonesia.
( http://definisi.net/story.php?title=bahasa , tgl 25 November 2009)

9. Biodata
a. Nama Lengkap : Bambang Trisoelo, M.B.A
b. Tempat dan Tanggal Lahir : Temanggug, 22 Desember 1962
c. Pekerjaan/Nama Lembaga : - TK Islam Kanita Tiara
Jl Melati III Perum Tiara Ardi, Purbayan, Baki,Sukoharjo, Jateng
- PKBM Fatimah.
Jl Melati II No.1 Perum Tiara Ardi, Purbayan, Baki,Sukoharjo, Jateng


d. Karya ilmiah yang relevan dengan naskah yang ditulis:
Judul: Tapping Into Active Learning and Multiple Intelligences With Interactive Multimedia: A Low-Threshold Classroom Approach.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar